BECIK: Ketika Permainan Menjadi Ruang Belajar untuk Mengenali Bullying

Nia Fernanda

BECIK

Ketika Permainan Menjadi Ruang untuk Belajar Menjadi Lebih Baik

An educational game based intervention to recognize bullying and practice prosocial, assertive responses for culturally grounded healthy peer relationships.

Bullying Adalah Persoalan Nyata

Bullying masih menjadi persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.

Berdasarkan data yang dicantumkan dalam materi BECIK, 51,82% siswa di Indonesia pernah mengalami bullying. Sementara itu, 26% korban bullying secara nasional merupakan siswa sekolah dasar, angka tertinggi dibandingkan jenjang sekolah lainnya.

Persoalan ini menunjukkan bahwa anak membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan mengenai apa itu bullying.

Mereka juga perlu belajar untuk mengenali situasi, memahami dampaknya, dan menentukan bagaimana harus merespons.

51,82%

Siswa di Indonesia pernah mengalami bullying

Source: Tirto Survey, 2025

26%

Korban bullying nasional merupakan siswa sekolah dasar

Source: GoodStats, 2025

Dari Persoalan Menjadi Sebuah Permainan

BECIK

Boardgame for Eradicating Cruelty and Instilling Kindness

BECIK dikembangkan sebagai media pembelajaran berbasis permainan untuk membantu anak mengenali bullying dan mempraktikkan respons yang prososial serta asertif.

Alih alih hanya menyampaikan materi secara teoritis, BECIK menggunakan pengalaman bermain sebagai bagian dari proses pembelajaran.

Anak diajak menghadapi berbagai situasi melalui permainan, kemudian belajar memilih respons yang lebih thoughtful dan berbasis nilai.

Mengapa Budaya Jawa?

Karena Pembelajaran Juga Bisa Berangkat dari Nilai yang Dekat

Salah satu pendekatan utama BECIK adalah Cultural Grounding.

Nilai budaya lokal digunakan untuk meningkatkan familiaritas, penalaran moral, serta respons anak terhadap bullying.

BECIK mengoptimalkan nilai nilai budaya melalui:

Sapa Aruh
Mengenal dan menghargai kehadiran orang lain.

Andhap Asor
Menempatkan kerendahan hati sebagai bagian dari perilaku.

Ngajeni
Membangun sikap saling menghormati.

Guyub
Mendorong kebersamaan.

Tepa Slira
Mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain.

Wani Ngelingke
Berani mengingatkan ketika melihat perilaku yang tidak tepat.

Nilai tersebut digunakan untuk menanamkan kesopanan, empati, dan gotong royong, sekaligus mendorong terbentuknya hubungan pertemanan yang positif, saling menghormati, dan suportif.

Belajar Melalui Pengalaman

Bukan Sekadar Mengetahui, Tetapi Mencoba

BECIK dibangun di atas beberapa pendekatan pembelajaran yang saling melengkapi.

01

Experiential Behavioural Learning

Anak mengenali situasi bullying melalui skenario permainan, mempraktikkan respons, kemudian belajar dari konsekuensi pilihan mereka.

02

Universal Design for Learning

Pendekatan yang memberikan ruang bagi anak untuk memahami dan merespons sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka.

03

Cultural Grounding

Nilai budaya lokal digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran.

04

Assertive Action

Anak didorong untuk mengembangkan respons yang lebih tegas dan konstruktif dalam menghadapi situasi bullying

Dari Kartu hingga Papan Permainan

Sebuah Pengalaman Belajar yang Dibangun Melalui Interaksi

BECIK menghadirkan berbagai komponen permainan yang memungkinkan proses belajar berlangsung melalui aktivitas langsung.

EMPATHY CARD

Kartu yang menjadi bagian dari pengalaman permainan dan pembelajaran mengenai empati.

ACTION CARD

Kartu yang membawa aktivitas dan situasi yang berkaitan dengan respons terhadap bullying.

BOARD SPACES

Ruang permainan yang mengintegrasikan nilai dan perilaku budaya.

Poster BECIK juga menunjukkan bahwa kartu tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.

Belajar dari Para Pandawa

Nilai Karakter yang Datang dari Cerita Budaya

BECIK mengambil inspirasi dari Pandawa Lima dan karakter budaya yang dikenal melalui cerita tradisional.

Pendekatan ini digunakan untuk mengambil nilai nilai positif dari karakter folklore sebagai bagian dari upaya membangun karakter anak yang kuat dan bijaksana.

Bagaimana BECIK Dikembangkan?

Dari Kebutuhan Menjadi Sebuah Media Pembelajaran

Pengembangan BECIK dilakukan melalui empat tahap.

01 — DEFINE

Needs Analysis

Kebutuhan diidentifikasi melalui literature review dan front end analysis.

02 — DESIGN

Concept Development

Konsep media intervensi berbasis game based learning mulai dirancang.

03 — DEVELOPMENT

Building, Testing & Improving

Permainan dibangun, diuji, dan dikembangkan.

04 — DISSEMINATE

Sharing the Validated Game

Permainan yang telah divalidasi kemudian dibagikan kepada sekolah dan secara online.

Sebuah Pendekatan yang Berangkat dari Kebutuhan Anak

Tujuan BECIK bukan hanya menciptakan sebuah board game.

Ada dua fokus utama di balik pengembangannya:

  • Menciptakan board game anti bullying

    berdasarkan prinsip educational game based learning.

  • Mengintegrasikan nilai budaya lokal

    untuk meningkatkan familiaritas, penalaran moral, dan respons terhadap bullying pada anak sekolah dasar.

Apa yang Ditemukan?

Sebuah Hasil Awal yang Menjanjikan

BECIK melalui proses validasi menggunakan Learning Object Review Instrument atau LORI.

Hasil validasi yang ditampilkan pada poster menunjukkan:

4,9 / 5,0

Expert Validation Score

Validator: Child Psychology Expert

Selain itu, hasil uji kecil terhadap 7 siswa menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan dari sekitar 96 menjadi 99. Poster menyimpulkan bahwa uji kecil tersebut menunjukkan BECIK membantu anak mengenali bullying dan memilih respons yang thoughtful serta berbasis nilai.

BECIK dan Nilai yang Dibawanya

  • Belajar Mengenali

    Mengenali situasi bullying yang terjadi di sekitar mereka.

  • Belajar Memahami

    Melihat persoalan melalui nilai, empati, dan perspektif budaya.

  • Belajar Merespons

    Berlatih memilih respons yang lebih prososial dan asertif.

  • Belajar Membangun Relasi

    Mendorong hubungan pertemanan yang positif, respectful, dan supportive.

Sebuah Board Game dengan Tujuan yang Lebih Besar

BECIK mempertemukan game based learning, nilai budaya Jawa, pembelajaran perilaku, dan assertive action dalam satu media pembelajaran.

Di dalamnya, anak tidak hanya diajak mengetahui bahwa bullying adalah sesuatu yang salah.

Mereka diajak untuk mengenali situasi, memahami nilai, menghadapi skenario, dan memikirkan bagaimana seharusnya mereka merespons.

Dengan pendekatan tersebut, BECIK dirancang sebagai sebuah media untuk membantu membangun healthy peer relationships yang berakar pada nilai budaya.

BECIK

Boardgame for Eradicating Cruelty and Instilling Kindness

A culturally grounded approach to helping children recognize bullying and practice prosocial, assertive responses.

Tentang Tim

SD Muhammadiyah Sapen

Our Team

BECIK dikembangkan oleh tim dari SD Muhammadiyah Sapen.

POSTER

Terima Kasih

Lainnya Untuk Anda

© 2025 Happa Group. All rights reserved.

Get in touch