Cerita Kami di Balik Elita Touch Agustus 2025: Merdeka & Berdaya Bersama Perempuan Indonesia
Tyas Adinisa





BECIK
Ketika Permainan Menjadi Ruang untuk Belajar Menjadi Lebih Baik
An educational game based intervention to recognize bullying and practice prosocial, assertive responses for culturally grounded healthy peer relationships.
Bullying Adalah Persoalan Nyata
Bullying masih menjadi persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Berdasarkan data yang dicantumkan dalam materi BECIK, 51,82% siswa di Indonesia pernah mengalami bullying. Sementara itu, 26% korban bullying secara nasional merupakan siswa sekolah dasar, angka tertinggi dibandingkan jenjang sekolah lainnya.
Persoalan ini menunjukkan bahwa anak membutuhkan lebih dari sekadar pengetahuan mengenai apa itu bullying.
Mereka juga perlu belajar untuk mengenali situasi, memahami dampaknya, dan menentukan bagaimana harus merespons.
51,82%
Siswa di Indonesia pernah mengalami bullying
Source: Tirto Survey, 2025
26%
Korban bullying nasional merupakan siswa sekolah dasar
Source: GoodStats, 2025
Dari Persoalan Menjadi Sebuah Permainan
BECIK
Boardgame for Eradicating Cruelty and Instilling Kindness
BECIK dikembangkan sebagai media pembelajaran berbasis permainan untuk membantu anak mengenali bullying dan mempraktikkan respons yang prososial serta asertif.
Alih alih hanya menyampaikan materi secara teoritis, BECIK menggunakan pengalaman bermain sebagai bagian dari proses pembelajaran.
Anak diajak menghadapi berbagai situasi melalui permainan, kemudian belajar memilih respons yang lebih thoughtful dan berbasis nilai.
[PRODUCT IMAGE]
Mengapa Budaya Jawa?
Karena Pembelajaran Juga Bisa Berangkat dari Nilai yang Dekat
Salah satu pendekatan utama BECIK adalah Cultural Grounding.
Nilai budaya lokal digunakan untuk meningkatkan familiaritas, penalaran moral, serta respons anak terhadap bullying.
BECIK mengoptimalkan nilai nilai budaya melalui:
Sapa Aruh
Andhap Asor
Ngajeni
Guyub
Tepa Slira
Wani Ngelingke
Nilai tersebut digunakan untuk menanamkan kesopanan, empati, dan gotong royong, sekaligus mendorong terbentuknya hubungan pertemanan yang positif, saling menghormati, dan suportif.
[INTERACTIVE CULTURAL VALUE CARDS]
Sapa Aruh
Mengenal dan menghargai kehadiran orang lain.
Andhap Asor
Menempatkan kerendahan hati sebagai bagian dari perilaku.
Ngajeni
Membangun sikap saling menghormati.
Guyub
Mendorong kebersamaan.
Tepa Slira
Mempertimbangkan perasaan dan keadaan orang lain.
Wani Ngelingke
Berani mengingatkan ketika melihat perilaku yang tidak tepat.
Belajar Melalui Pengalaman
Bukan Sekadar Mengetahui, Tetapi Mencoba
BECIK dibangun di atas beberapa pendekatan pembelajaran yang saling melengkapi.
01
Experiential Behavioural Learning
Anak mengenali situasi bullying melalui skenario permainan, mempraktikkan respons, kemudian belajar dari konsekuensi pilihan mereka.
02
Universal Design for Learning
Pendekatan yang memberikan ruang bagi anak untuk memahami dan merespons sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik mereka.
03
Cultural Grounding
Nilai budaya lokal digunakan sebagai bagian dari proses pembelajaran.
04
Assertive Action
Anak didorong untuk mengembangkan respons yang lebih tegas dan konstruktif dalam menghadapi situasi bullying.
[4 PILLARS INTERACTIVE SECTION]
EXPERIENTIAL
UNIVERSAL DESIGN
CULTURAL
ASSERTIVE
Dari Kartu hingga Papan Permainan
Sebuah Pengalaman Belajar yang Dibangun Melalui Interaksi
BECIK menghadirkan berbagai komponen permainan yang memungkinkan proses belajar berlangsung melalui aktivitas langsung.
[COMPONENT SHOWCASE]
EMPATHY CARD
[IMAGE]
Kartu yang menjadi bagian dari pengalaman permainan dan pembelajaran mengenai empati.
ACTION CARD
[IMAGE]
Kartu yang membawa aktivitas dan situasi yang berkaitan dengan respons terhadap bullying.
BOARD SPACES
[IMAGE]
Ruang permainan yang mengintegrasikan nilai dan perilaku budaya.
Poster BECIK juga menunjukkan bahwa kartu tersedia dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris.
Belajar dari Para Pandawa
Nilai Karakter yang Datang dari Cerita Budaya
BECIK mengambil inspirasi dari Pandawa Lima dan karakter budaya yang dikenal melalui cerita tradisional.
Pendekatan ini digunakan untuk mengambil nilai nilai positif dari karakter folklore sebagai bagian dari upaya membangun karakter anak yang kuat dan bijaksana.
[CHARACTER SHOWCASE]
[YUDHISTIRA] [BIMA] [ARJUNA] [NAKULA] [SADEWA] [DRAUPADI] [KUNTI]
Visual placeholder: karakter karakter BECIK ditampilkan sebagai satu horizontal gallery.
Bagaimana BECIK Dikembangkan?
Dari Kebutuhan Menjadi Sebuah Media Pembelajaran
Pengembangan BECIK dilakukan melalui empat tahap.
[HORIZONTAL TIMELINE]
01 — DEFINE
Needs Analysis
Kebutuhan diidentifikasi melalui literature review dan front end analysis.
↓
02 — DESIGN
Concept Development
Konsep media intervensi berbasis game based learning mulai dirancang.
↓
03 — DEVELOPMENT
Building, Testing & Improving
Permainan dibangun, diuji, dan dikembangkan.
↓
04 — DISSEMINATE
Sharing the Validated Game
Permainan yang telah divalidasi kemudian dibagikan kepada sekolah dan secara online.
Sebuah Pendekatan yang Berangkat dari Kebutuhan Anak
Tujuan BECIK bukan hanya menciptakan sebuah board game.
Ada dua fokus utama di balik pengembangannya:
Menciptakan board game anti bullying
berdasarkan prinsip educational game based learning.
Mengintegrasikan nilai budaya lokal
untuk meningkatkan familiaritas, penalaran moral, dan respons terhadap bullying pada anak sekolah dasar.
[FULL WIDTH VISUAL]
Apa yang Ditemukan?
Sebuah Hasil Awal yang Menjanjikan
BECIK melalui proses validasi menggunakan Learning Object Review Instrument atau LORI.
Hasil validasi yang ditampilkan pada poster menunjukkan:
4,9 / 5,0
Expert Validation Score
Validator: Child Psychology Expert
[ANIMATED SCORE CIRCLE]
Selain itu, hasil uji kecil terhadap 7 siswa menunjukkan adanya peningkatan skor pengetahuan dari sekitar 96 menjadi 99. Poster menyimpulkan bahwa uji kecil tersebut menunjukkan BECIK membantu anak mengenali bullying dan memilih respons yang thoughtful serta berbasis nilai.
[DATA VISUALIZATION]
PRETEST
96
↓
POSTTEST
99
Small Group Test
7 Students
BECIK dan Nilai yang Dibawanya
[DARK GREEN SECTION]
Belajar Mengenali
Mengenali situasi bullying yang terjadi di sekitar mereka.
Belajar Memahami
Melihat persoalan melalui nilai, empati, dan perspektif budaya.
Belajar Merespons
Berlatih memilih respons yang lebih prososial dan asertif.
Belajar Membangun Relasi
Mendorong hubungan pertemanan yang positif, respectful, dan supportive.
Sebuah Board Game dengan Tujuan yang Lebih Besar
BECIK mempertemukan game based learning, nilai budaya Jawa, pembelajaran perilaku, dan assertive action dalam satu media pembelajaran.
Di dalamnya, anak tidak hanya diajak mengetahui bahwa bullying adalah sesuatu yang salah.
Mereka diajak untuk mengenali situasi, memahami nilai, menghadapi skenario, dan memikirkan bagaimana seharusnya mereka merespons.
Dengan pendekatan tersebut, BECIK dirancang sebagai sebuah media untuk membantu membangun healthy peer relationships yang berakar pada nilai budaya.
BECIK
Boardgame for Eradicating Cruelty and Instilling Kindness
A culturally grounded approach to helping children recognize bullying and practice prosocial, assertive responses.
[FINAL HERO IMAGE]
[BUTTON] Eksplorasi BECIK
Tentang Tim
[TEAM PHOTO / PORTRAIT]
SD Muhammadiyah Sapen
Our Team
BECIK dikembangkan oleh tim dari SD Muhammadiyah Sapen. Poster menampilkan tim tersebut sebagai bagian dari proyek pengembangan BECIK.


Tentang Penulis
Tyas Adinisa
Tyas adalah seseorang yang suka menulis dalam bidang apa pun. Motto yang digunakan tyas adalah "Perbanyak proses kurangi protes"
Lainnya Untuk Anda
© 2025 Happa Group. All rights reserved.

